Tampilkan postingan dengan label Rava. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rava. Tampilkan semua postingan

15 Juli 2012

Emosi

Kesalahan kecil saja dalam mengekspresikan emosi kepada anak, akan menggoreskan luka di hatinya. Kita sebagai ibu pun tak luput dari rasa bersalah. Memang baru kita akui setelahnya, saat kejadian itu yang ada hanyalah emosi, kemarahan, dan tak terkendalinya hati. Peran hawa nafsu, bisikan syetan juga menjadi andil.

Rava, ibu belum bisa menjadi contoh ibu yang terbaik buatmu saat ini. Doakan agar bisa terus berusaha menyayangimu dengan cara terbaik dan Allah suka dengan apa yang ibu lakukan ya Nak!

-peluk, sayang Rava-

19 Maret 2012

Rintik Hujan

Tik..tik..tik...
Bunyi hujan diatas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok
Dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua..

Utuh lagu itu dinyanyikan Rava dengan riang. Memegang sebuah botol sebagai mic nya. Menyanyi penuh semangat di minggu siang. Melenggang dengan senyum nan menawan dari wajah lucunya. Senang sekali hatinya.
Semangat  sekali dirinya. Karena sebelumnya dia hanya bisa menyanyikan ujung lagu saja
...tik..genting..terkira..tengkok..dahan dan basah semua...

Lihatlah model transformasi pembelajaran seorang batita (3 tahun 4 bulan). Tak sempurna. Kemudian menyempurnakan dengan sendirinya. Dengan latihannya. Dengan semangatnya. 
Menyanyi hampir di setiap lagu usai disambung kembali. Tak bosan. Tak surut. Tak menyerah walau kita sudah menampakan wajah 'lelah', hehe...

Rava my boy. U are wonderful.

6 Maret 2012

AyahIbuAnak

Matahari terbangun duluan.
Sambil duduk dia mengeja. 
Ini ayah. Ini ibu. Ini aku.

Sinar pagi baru malu-malu muncul. Dan kalimatnya seperti sebuah 'perenungan' panjang akan eksistensi sebuah keluarga. Ayah..ibu..anak.

Menjadi lengkap karena saling melengkapi. Berbagi amanah, berbagi tanggungjawab dan berbagi hidup dengan ketiga unsur keluarga.
Benarlah bahwa Allah mewanti-wanti agar setiap umat menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS. At Tahrim). 

Rava. Sosokmu baru di 3 tahun 4 bulan.
Dan Allah mengirimkan ke dalam hatimu, kepekaan hidup. Kata-kata polos yang sarat makna. Tindakan penghiburan yang kau reflesikan dalam keluarga.

We do love u honey!

29 Februari 2012

Sudah lama

Matahari itu tak protes saat terjatuh. Menangis pun tidak.

Rava. Tak apakah badanmu? Sakitkah? Terlukakah?
Senyum mentarina terbit. Menenangkan. Membungkam sekian tanya ibu. Memberi ketenangan dan rasa nyaman yang sangat.

Rava. Ibu ini ibumu kah?
Yang sayang amat sangat.
Yang terlelap setelah melelapkanmu.
Yang menangis jika kau terluka.
Yang menderita karena perih yang tak kau mengerti.
Yang bertekad seumur hidup membahagiakanmu..di lahir dan di batin.
Yang sesungguhnya jauh lebih rapuh, tapi berusaha dan harus kuat

Rava. Di sisimu, aku ibu yang seperti apa?

*spechless mom, judulna, hiks*

31 Januari 2012

Sungguh Pengertian


Matahari sedang bermain dengan anak-anak matahari yang lain. Dalam sebuah ruangan berukuran 3x4 meter milik seorang sahabat. Ditimbuni mainan dari ukuran kecil hingga besar. Di sekeliling syair-syair Maher Zen yang liriknya sekarang aku suka banged!

Segala sesuatu memang harus terencana dengan baik. Karena dari rencana yang berhasil baik di prosesnya, kita bisa melihat bagaimana Allah membuat segala sesuatunya menjadi mudah.

1 Februari ini saya mulai memasuki kantor baru, yang tentu saja tak bisa membawa seorang lelaki kecil yang sedang aktif-aktifnya bergerak bersama saya. Solusinya mencari tempat agar -sekali lagi- Rava bisa dititip (maaf ya Nak!) Sedih selalu setiap kali menitipkan buah hati ke tempat lain. Saat ini memang tak memungkinkan untuk cuti sepenuhnya dan selamanya dari amanah-amanah ruang publik. Hanya tetap harus mencari yang terbaik untuk Rava.

Alhasil, bertemanlah saya dengan seorang muslimah yang punya anak seusia Rava dan niatnya menolong saya, membantu kesulitan saya, akhirnya bersedia untuk di titipi Rava.

"Rava, besok main ke rumah dede ya. Nanti Rava main, tidur dan makan disana. Ibu jemput lagi sore setelah kerja. Ga apa-apa?" Itu ucapan saya 3 hari sebelum Rava mulai di titip.

"Ga apa-apa bu." balas Rava sambil tersenyum. Duh...gusti..ini anak betapa baik ^_^

Hari pertama, tak jadi main.
Hari kedua, main dan bilang tak mau pulang.
Hari ketiga, mulai dititipkan full.
And he said
"Ibu kerja aja, Rava main disini.Ga apa-apa kok." Huhuhu...sungguh terharu, sangat!

Subhanallah. Betapa anak usia 3 tahun lebih banyak memahami kepentingan orang dewasa. Dan yang pasti Allah lah yang memberikan pengertian itu pada akalnya.

30 Januari 2012

Keras Kepala

Satu matahari ini membuat pening. Bukan karena panasnya. Tapi karena kesamaan kerasnya kepala.

Bocah..bocah...!

"Ibu-ibu harap waspada dan meningkatkan kecerdasan saat anak berusia 3 tahun dan mulai meniru apa yang kita ucapkan, apa yang kita obrolkan."

Ucapan itu ga kerasa waktu ini matahari usia 2 tahun. Nah sudah setahun lewat, matahari ini mulai menampakan sinarnya yang terang plus plus...hehe.
Rava. Ayo mandi!
Nggak.
Rava. Ayo tidur!
Nggak.
Rava. Ayo ganti baju!
Nggak

Weleh..weleh..bocah ini!

Rava. Ayo makan
"Berdoa dulu ya bu!"
Rava. Ayo main!
"Yang ini bu, Rava suka ini."
Rava. Ayo jalan-jalan
"Kemana bu?"

Nah..nah..nah...apa memang judul keras kepala tepat?
Hehe!



26 Januari 2012

Suka Tidur

"Sedang tertidur!"

11.11 di suatu hari bersama angin gelebug dan hujan mulai rintik. 

Tertelungkup di atas meja berwarna biru. Dialasi kedua tangan. Pipi menempel. Mata terpejam.

Matahari itu ternyenyak selama 10 menit, sebelum dibangunkan paksa, hehe.

Beberapa hari ini, Rava memang suka sekali tertidur. Padahal sekali tidur bisa menghabiskan 2-3 jam. Jadi kalau dihitung, dalam sehari dia bisa tidur 3 kali dengan durasi panjang-panjang. Heran juga, padahal tak minum obat (baik yang parasetamol maupun obat yang ada kandungan lelapna). Yang tak berubah hanya makan yang tetap banyak dan main yang tetap bersemangat ^_^ Rava banget deh!

Pengaruhkah pada berat badannya?
Well, setelah di huni demam, batuk pilek, dan diare selama seminggu. Pipinya mulai terlihat menggemuk dan seseg (bhs. sunda-red). 

Baguskah jika anak suka tidur?

Saya juga belum tahu. Karena belum gugling lagi, hehe.
Ini ditulis, karena suka dengan kebiasaanya itu.
Jadi banyak hal yang bisa ibu matahari lakukan.

^_^

11 Januari 2012

Janji Matahari

I promise you that I will write something bout you everyday (if I could ^_^). But still, I always curious when you beside me. Accompany me 24 hours. Everyday is a blessing. Live with you make me more strong than before. Cause you are my sunshine. Risingin in every moment in my life.

It's a promise right?

Loving you will not enough. Ever, again and again. I do realize that I have true love with you. Nor if you not here, coz something separate us. This love will reach you. No matter how.

This is what I feel. 
This is what I want.
This is what I have to do with you.
This is what I think

Happiness will keeping you always.
Because you are my sunshine.

I promise to make you smile everyday, laugh loudly, be brave and be sholeh.

Love you!


10 Januari 2012

Setiap Hari

"Bu, aku sudah bangun!"

Matahariku bersinar jam 5 pagi di hari selasa ini. Mencoba membantuku mencuci pakaian dengan sikat yang sekedarnya.

Beberapa hari ini, bangunnya selalu lebih awal. Dan salah satu ucapan favoritna adalah :
"Rava nggak mau sekolah!"

Bu, ayolah membujuk matahari itu agar bersinar juga di sekeliling guru-guru dan teman-temannya.
Maka sekuat tenaga, kuajak bicara ia-nya. Ku bujuk rayu dengan gombal khas anak-anak. Apalagi kalau bukan motivasi dia bisa bermain sepuasnya dengan teman-teman, bertemu dengan bu guru dan kemudian membekalinya dengan makanan dan minuman kesukaan.

"Aku ga mau sekolah!" matahari itu tetap di tempatnya. Memeluk tiang erat dan tak mau ikut ibu ke sekolah.

Jurus terakhir lho, Nak! Ini jurus pamungkas. Hehe.
Kutinggalkan dirinya, sama seperti emak-emak rumah tangga menawar barang dan pura-pura pergi agar barangnya dijual oleh si pedagang. Ibu pun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari matahari.

Tak beranjak. Maka ibu putuskan bukan pura-pura lagi. Tapi memang meninggalkannya, agar dia paham ibu serius dan tak main-main dengan -harus berangkat sekolah-.

Kaki matahari itu mulai bergerak. Tangan mulai terlepas dari tiang. Lari-lari kecilnya tanda ia berdamai dengan keinginan dirinya dan keinginan ibu.

Menggandenglah ia di sisi ibu.

Ah, matahari.





6 Januari 2012

Bermain dengan Matahari

Bukan judul film - Mengejar Matahari-.

Karena matahariku selalu ada disini, jadi tak kukejar lagi dan tak ku cari lagi. Dia menemaniku setiap pagi, setiap siang, setiap sore hingga malam larut membungkus bumi.

Aih, pagi ini dia tersenyum padaku. Manis sekali.

Jumat ini, bermain dengan matahari seharian. Juga di Sabtu. Dan juga di Minggu. Matahariku tak pernah bosan mengajak ini dan itu. Melakukan hal-hal yang tidak biasa. Melakukan hal yang biasa. Bersenang kami berdua. Tertawa kami bersama. Bersedih juga berdua.
Matahariku ini tak pernah kehabisan bahan bakar. Terlalu aktif, terlalu kreatif, terlalu pintar sehingga ia bisa mengelak dan membantah. Terlalu talk active, terlalu naik turun emosinya. Sehingga kadang terengah ketika membersamainya ^_^

Kami bisa mengobrol menjelang terlelap. Dari hal yang ringan hingga yang berat. Tertawa terbahak saat menyanyi. Tergelak saat menemukan hal yang lucu. Berkomunikasi dengan bahasa yang hanya kami berdua mengerti. 

Hebat ya punya matahari seperti ini. Lalu kemudian dia beristirahat dengan lelap. Dengan pelukan hangat. Dengan senyuman puas setelah seharian menemaniku. 

"Itu ayah matahari!"
"Ini ibu matahari!"
"Aku Rava matahari!"

-have a nice day with you...every minute and second-




22 Desember 2011

Matahariku

Saat kami pilih kata ini untuknya. Kami tahu dia akan menjadi pencerah jiwa dan kehidupan kami. Radithya..yang dalam bahasa sansekerta berarti Matahari. Maka Muhammad Radithya Sandy...adalah matahari bagi kami, sumber kebahagiaan bagi kami, sumber segalanya bagi orbit hidup kami.

Siang ini dia tertidur lelap. Setelah seharian bermain, makan dan minum serta menangis bosan.

Di matanya selalu ada pengertian atas keluh kesah. Ada cermin jujur yang membuat airmata selalu mengalir saat memandanginya sebelum tertidur lelap. Kami saling memandang, saling tersenyum, saling bercerita dan berpelukan erat. Ibu sungguh sayang kamu, Nak!

Dia mengerti kami amat banyak. Memahami ibu dan ayahnya. Memahami setiap perasaan kami dengan baik. Dan dengan tingkahnya yang polos dan tak terduga, dia menyirami hati kami setiap hari dengan bahagia. Tentu saja kanak-kanaknya tetap tak tergoyahkan. Tangisannya, jeritannya, kemarahannya, tantrumnya, dan aneka polah batita. Tapi sungguh, kami menyayanginya karena semua apa yang ada pada dirinya.
Teman-teman kami sungguh menyayanginya. Ingin membuatnya tersenyum dan bahagia, seperti kami yang menginginkan segala bahagia ada di hidupnya. Oh, sungguh matahari kami, Nak!

Well, I'm now your mother. And will do evertyhing for you Rava...my only son..my only sunshine..
Because I love you so much...more..and more...every day!



11 November 2011

K r e a t i v i t a s


Kita tak tahu batas kreatifitas setiap diri.

Pagi ini, Rava bereksperimen dengan sekantung keresek uang logam pecahan 50, 100, 200 dan 500. (sayang sekali gambarnya belum bisa di upload, koneksi hp ke kompi harus di set ulang, hiks).
Dia susun pecahan uang itu membentuk satu kubah, bertangan, berkaki dan bersulur-sulur.

“Ibu, Rava bikin robot!” Hiya…kutanggapi dengan antusias.
“Rava hebat! Keren nak robotnya. Ayo teruskan?”

Bicara soal kreatifitas. Rava yang 3 tahun itu selalu mengagetkan ayah ibunya. Di rumah ada banyak komik Naruto. Dia minta semua diturunkan. Lalu dia susun seperti tangga, kadang dia susun menjadi rumah, menjadi bentuk zigzag. Hebatnya, semua diatur secara presisi. Ujung ke ujung buku. Cover depan dan cover belakang di susun berurutan. Warna di sesuaikan.

Saya jadi mikir. Ternyata anak tuh ga mesti selalu di belikan mainan dan mainan. Apa yang ada dirumah, apa yang tersedia sebetulnya bisa dijadikan lahan berkreatifitas. Buku, alat masak, tanaman, meja kursi, sandal, tali, pensil dan ballpoint, kertas bekas, mouse yang sudah tak terpakai, kardus bekas, dan sebagainya.

Saya pernah coba belikan dia mainan robot. Sehari dia pegang terus, sampai tidur pun dibawa. Besoknya, udah ga inget tuh. Dibiarin aja si robot tergeletak. Ternyata oh ternyata…namanya juga mainan, bukan benda “asli”, ya riwayat hidupna juga tak lama..hehe.

Balik soal kreatifitas. Daya imajinasi seseorang sungguh sangat tak terbatas. Tergantung memang dari apa yang dia lihat, dia dengar, dia rasa dan dia amati. Kemudian membran-membran otak bergeliat untuk membentuk imajinasi baru…terus dan terus.

Welcome Creativity!

(lihat, uang-uang itu berubah jadi susunan ikan paus..great job my son!)

10 November 2011

Plak!!

"Nak, memukul itu tidak baik!" siang itu...selepas menjemput Rava pulang sekolah. Tiba-tiba mood nya turun naik.
Senang saat dibelikan sandal biru yang baru.
Sedih saat sandalnya mau lepas
Marah saat bingung memutuskan mau nonton film, mau makan, dan pengen pake sandal.
Puncaknya. Plak! Di antara tangis, kesal, dan marahnya..tangan mungil itu menampar pipi ibunya

Anakku!
Hari ini lagi mellow, tak sempat lagi untuk marah..hehe!
Kubawa Rava ke pojok perpustakaan di belakang. Masih menangis, dan ibu tahu nak, kamu ketakutan karena konsekuensi dari pukulan itu adalah hukuman. Kamu menangis karena tak mau dihukum.

Hoho. Tak berlaku tangisanmu Nak! Komitmen ayah dan ibu untuk mendidik akhlak yang baik kepadamu, apapun resikonya. Kami melakukan hukuman dengan penuh pertimbangan.

Di pojok itu.
Kamu menangis memeluk ibu, tak mau ditinggalkan.
Kubiarkan 1 menit, 2 menit, 5 menit..hingga tangis berangsur reda.
Kusejajarkan pandangan mata kita. 
"Nak, tahu kenapa dibawa kesini?" intonasi suara harus benar-benar dijaga. Sesungguhnya Rava sangat mengerti bentuk komunikasi seperti ini.

"Memukul itu tidak baik." memulai dengan kalimat langsung atas kesalahannya.
"Jika Rava kesal bilang-aku kesal. Jika Rava marah, bilang-Aku marah. Jika Rava sedih, bilang - Aku sedih!" sesederhana itu. Tapi tidak buat anak umur 3 tahun.
"Sungguh, ibu sayang Rava!" ini dia kalimat pamungkas. Betapapun kita marah, menghukumnya, sampaikan bahwa kita sangat menyayanginya. Peluk, cium dan usap kepala serta punggungnya.
"Sekarang gimana?" kutanya pada jagoan kecilku.
"Rava minta maaf, Rava tanggungjawab, Maafkan Rava!" Kalimatnya mengakhiri eksekusi hukuman siang itu. Diulurkan kelingking kanannya. Tanda baikan.

Kupeluk ia. Ku bisikan agar menghentikan tangisnya. Ku tawarkan alternatif kegiatan lain. 
Setelahnya. Dia makan. Dia nonton. Dia minum dan memakai sandalnya dengan baik.

Terimakasih Nak ^_^

5 November 2011

Happy Milad Rava

Tidak ada tart coklat yang menawan itu
Tidak ada lilin berangka 3 atau berjajar 3 buah
Tidak ada balon yang ditiup
Tidak ada teman-teman yang kami undang
Tidak ada hadiah dan banyak kado
Tidak ada musik pengiring ulang tahun.

Di tanggal 4 November 2011 kemarin, yang ada hanya kita bertiga
Ayah
Ibu
Rava

Menyanyikan Happy Birthday To You saat kau bangun di pagi hari.
Mencium pipimu dengan sayang, mengucapkan selamat ulang tahun yang ketiga
Melantunkan doa di 3 tahun mu ini
Memohon maaf karena kami belum "sempurna" di sisimu selama 2,99 hari itu
Mencintaimu dengan sepenuh jiwa
Menyayangimu dengan keterbatasan kami mendidik dan menjaga mu
Menghadiahimu dengan keberadaan kami di sisimu dalam suka dan duka
Menemanimu dengan senang

We love u son, and will be the same whether you know or not...
Happy Birthday Rava!
Thanks for all this year...
U're an angel for us ^_^


3 November 2011

4 November

Esok tinggal bilangan jam saja.
Menyambut tahun ke 3 dengan berbagai tingkah polah kanak-kanak.
-Muhammad Radithya Sandy a.k.a Rava-
4 November 2011

Jadi, itu umurmu besok Nak. 3 Tahun sudah.
Di bulan yang sama ibu lahir. Berbeda tanggal dan tahun. Tapi darah kita sama. Mengalir di nafasmu, nafasku. Gen ku menurun padamu, juga gen ayah. Perpaduan dua manusia yang melahirkan manusia baru di jaman yang berbeda.

Ibu cenderung serba teratur, well manage kata orang. Dan memang serba ingin teratur, bahkan di rumah..risih rasanya melihat sampah, buku berantakan, jendela kotor, lantai basah. Ingin serba beres. Terencana.

Ayah orang yang detail, presisi dan banyak bakat. Menggambar, menyanyi, memainkan alat musik, berbahasa. Type yang diharapkan sekaligus ditakuti banyak perempuan ^_^

Kamu. Rava. Perpaduan unsur ibu dan ayah yang keduanya berbeda. Sisi-sisi sifat baik dan buruk kami bisa kamu lihat kan Nak. Itu hidup, tak selamanya pelangi. Terkadang badai dan masalah lebih mendominasi.

Kami berusaha menjadikanmu Rava seutuhnya, yang memiliki sifat dan karakter sendiri, yang hidup sesuai dengan fitrah Rava. Adakala gen kami menyatu di hidupmu. Namun, sesungguhnya Kamu berhak menentukan akan seperti apa kelak hidupmu di tahun-tahun selanjutnya.
Tugas kami mengawasi, mengontrol, memperhatikan, memberi kepercayaan, dan mendoakan segala yang terbaik.

Kami mencintaimu. Menyayangimu dengan segala apa yang kamu lakukan di 3 tahun terakhir.

Happy birthday cinta. Semoga Allah melindungimu selalu, selamanya, di hidupmu. hingga akhiratmu kelak. Amiin

2 November 2011

Kamu

Meloncat
Berlari
Mencoba hal baru
Ber-presisi dengan benda
Menyusun
Bergerak
Berceloteh
Membantah
Menangis
Mengigau
Meminta
Bercanda
Mencium
Memeluk
Marah
Sakit
Makan
Bermain
Minum
Belajar
Menggambar
Ah...akan bertambah pula setiap aktifitas kamu nanti nak, seiring 2 hari lagi menjelang 4 november nanti.


26 Oktober 2011

UntukLelakiKu

Menjadilah baik. Sebaik-baik manusia.
Menjadilah lembut. Terhadap dirimu, keluargamu, teman, dan lingkunganmu.
Menjadilah bertanggungjawab. Atas apa yang kau putuskan, atas apa yang kau inginkan.
Menjadilah berani. Jika pengecut, kau tak punya nama lelaki.
Menjadilah tangguh. Saleh secara ritual dan saleh sosial.
Menjadilah penyayang. Buktikan ketulusanmu
Menjadilah tak menyakiti perempuan. Dia adalah belahan jiwamu.
Menjadilah cerdas. Untuk keselamatan dunia dan akheratmu.
Menjadilah cair. Jika emosi mulai menyerangmu.

(Nak...Usiamu baru 3 tahun. Menjadilah seperti apa yang kutulis..karena doa akan selalu mengiringmu untuk menjadi LELAKI SEJATI!)