Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan

28 September 2012

Bolak Balik

Pagi ini.
"Hati itu berbolak-balik...!"

Sedih.
Karena untuk mengelola yang satu ini luar biasa beratnya (hati-red). Sepaham-pahamnya terhadap ilmu hati, tetap saja dalam aplikasi di lapangan dalam urusan mujahadah/latihan/riyadhoh sungguh tidak mudah.

Sekali ini hati merasa tenang.
Lain waktu hati ini gelisah.
Saat ini tak ada gejolak di hati.
Besok sudah penuh dengan bercak dosa.

Mengerikan.
Bahkan untuk mengurus hati ini pun energi yang dikeluarkan amat besar sekali. Karena setiap kita di uji. Dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan dan ujian yang lainnya.

Duh...ingin menangis rasanya mendengar materi kajian pagi ini dari seorang yang benar-benar mengalami hiruk pikuk bolak baliknya hati dan perjuangan untuk selalu membersihkannya.

 

18 September 2012

Healing

Seorang teman di Jakarta bilang begini,"Ada banyak hal dalam kehidupan gw yang salah dan menyimpang dari yang seharusnya. Tidak pada track yang benar. Penyesalan ada, dan gw mesti melangkah. Cara yang paling efektif untuk kekelaman masa lalu adalah dengan menuliskannya."

Well.
Saya tertarik kalimat "menuliskannya". She said, its call healing for her. Forget the past and move on. Biar saja masa lalu kelam menjadi sebuah pelajaran penting bagi sebanyak mungkin orang agar tidak mencontohnya.

I Agree.
Orang melampiaskan kesedihan, kekalutan, bingung, resah dan galaunya berbeda-beda. Refreshing bisa menjadi pilihan utama, tapi hal yang lain pun menarik untuk dilakukan. Salah satunya ya dengan menulis. Mencurahkan apa yang terasa di hati dan fikiran, segala ide, segala resah, segala apa yang ingin diungkapkan dengan jalinan kata dan kalimat. Karena kadang ketika kita curhat dengan manusia lain, tak jarang terkhianati, tak amanah dan menjadi masalah baru pada akhirnya.

Menulis bisa Bebas. Tak perlu dicecoki dengan aturan-aturan tak penting. 
Menulislah dengan sebebas-bebasnya.
Dengan suka, dengan hati.

Berani

Daarut Tauhiid sedang kembali menggiatkan budaya BAKU...karakter Baik dan Kuat. Salah satu diantaranya adalah Berani.

Ada yang menarik. Ungkapan berani ini bisa berarti banyak hal. Bagi jiwa-jiwa penakut, tentu saja urusan memberanikan diri ini menjadi sangat sulit. Lain hal jika tak punya pilihan lain.

Saya termasuk diantaranya. Ketakutan-ketakutan yang walaupun disebut manusiawi dalam kehidupan membayangi, dan mengalahkan keinginan untuk jadi berani. Akhirnya malah tak memilih apapun. Sayang sekali.

Akhirnya mesti tetap memilih. Dibayangi ketakutan dan berusaha berani...artinya bergerak. Atau
Tetap takut dan tetap tak berani. Diam saja di tempat. Tak bergerak.

Pilihan pertama dan kedua beresiko. Dan hati kembali memilih serta menetapkan. Ayolah! Kamu harus berani. Bisa kok! Coba dulu, jika jatuh pun kau  bisa bangkit untuk berusaha berani lagi.

Ya! Kuputuskan untuk Berani Melepaskan!
Apa?!?

Melepaskan yang membelenggu hati dan fikiran.
Melepaskan yang tersimpan tidak pada tempatnya.
Melepaskan penjagaan hanya kepada yang berhak.
Melepaskan peluang jadi beban orang lain.
Melepaskan apa saja yang merusak hati dan iman.
Melepaskan apa yang harus memang dilepaskan, tanpa harus menahan.

-Yang terasa? Lega luar biasa!-
(Inilah proses mujahadah "keberanian' itu)

Bismillah

10 September 2012

Ber-Fokus

Mau tau aja!
Seneng liat perbuatan orang lain dan selalu ingin comment, penting atau ga penting.
Saatnya berlatih untuk tidak mau tau selalu urusan orang lain. Jika punya yakin bahwa apapun yang dilakukan orang, yang baik, yang buruk, yang belum baik dan yang belum buruk...setiapnya ada pengawasan, ada yang mencatat, ada yang melihat...cukup dengan yakin saja. 

Peluang kotor hatinya itu lho yang bikin cuapek luar biasa.
Liat orang berbuat baik..timbul dengki..iri...dan sejenisnya...susah untuk punya perasaan flat (ato cuma sayah sajah..hiks..)

Liat orang berbuat belum baik...mulut dan fikiran udah gatel pengen comment (sok merasa diri lebih baik tea..huhuhu)

Maka...jika melihat apapun dengan iman. Tak akan kotor hati..minimal rada mengurangi dosa.

Maka..jika melihat apapun dengan iman. Sekuat tenaga kita menjaga ini lidah dan fikiran dan hal-hal yang merusak hati. (susah banget..huhuhu)

Maka..jika melihat apapun dengan iman. Setidaknya peluang kita untuk jadi lebih baik terbuka lebar...amiin, semoga.

Maka..jika melihat apapun dengan iman. Kita akan FOKUS pada diri sendiri. Jangan2 kita tak lebih baik dari yg dikomentari.

Fokus..fokus..!

Me Time (Yuuu...!)

Senang sekali jika weekend tiba. 2 hari yang menggembirakan. Bersama diri sendiri dan keluarga juga rencana-rencana seru ^_^

Inget weekend, inget Me-Time. 
Aslinya kita disibukkan dengan orang diluar diri kita. Entah itu pasangan hidup, orangtua, anak, kerabat, teman dan sahabat atau rekan kerja dan siapapun yang berkaitan dengan keseharian kita.

Sejatinya, tak punya waktu buat diri sendiri. Curi-curi ditengah segala hiruk pikuk hidup. Mengambil semenit dua menit untuk...having fun for your self. Im writing...itu me time yang paling susah dicari sekarang. Ga sempet (alasan basi). Malas..alasan paling pol sedunia. Ga punya ide...huwah...ga banget!

Then..bye-bye me time. Ga bakalan ada kalau kita ga ngusahain.

Orang bilang,"Lu keren ngatur waktunya. Hebat di time management!"
Belum tentu kalau belum punya waktu "menyendiri".

Sibuk apa sih?
Kerja, sekolah, hanging out, keluarga...atau apa?

Find your own me time..go go girls...penting banget..bener2 penting banget. 
Luangkan...luangkan. Its your time. Boleh ngapain aja yang manfaat, boleh bertafakur ria sendirian, boleh minta banyak2 sama Allah, boleh bercucuran air mata, boleh cuma diam dan merenungi setiap salah, dosa dan maksiat diri serta apa yang sudah dilakukan untuk diri dan orang lain. Boleh menuliskannya dalam bentuk 'penyesalan', boleh diskusi dengan hati sendiri untuk nge cek sejauh mana penyakit-penyakit kronis hati kita. Boleh apa saja...its your time..only you who have it.

Just you!

5 September 2012

Ketenangan

Mau dicari kemana?

Orang sibuk nyari rasa tenang. Apa yang dia kejar, yang dia pertaruhkan mati-matian. Belum tentu membuat ketenangan itu hadir di hidupnya.

Kita lupa. Sesungguhnya ketenangan itu dekat. 
Sedekat nafas kita sehari-hari.
Dia hadir disini, hadir di hati, hadir pada jiwa yang disentuh Allah lewat rahman dan rahiim nya.
Lewat iman yang tertanam dan kebenaran dengan keberanian.

Belajar lagi tentang hidup. Memang tak ada habisnya.


14 Agustus 2012

Hati ini

Hal-hal kecil pun ternyata bisa membuat hati ini terobrak abrik sedemikian rupa. Dua hari ini, ujian hati  begitu berat..ada saat ingin mujahadah selalu sabar dan bisa ikhlas. Dan perang melawan hawa nafsu pun berlanjut setiap saat, setiap hari...

-maafkan aku wahai hatiku-...aku belum jadi panglima mu

22 Juli 2012

Keputusan

Merasa takut akan hal yang kita putuskan, atau orang lain putuskan atas hidup kita, adalah wajar. Sesungguhnya kita sejatinya adalah manusia biasa. Dan ketika kewajaran itu kemudian mendominasi menjadi sebuah 'pengharapan' akan keputusan yang sesuai keinginan kita dari orang lain, itulah yang menjadi kehati-hatian dari diri kita. Jangan-jangan kita sudah begitu parah bergantung kepada orang lain atas kehidupan kita. Bahasa agama menyebutkan itu syirik. Dan kalau sudah begitu, letak Allah ada dimana di posisi hati kita?

Bolak-baliknya hati akan setiap kejadian dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita seharusnya bisa membuat diri menjadi lebih "yakin" kepada apa yang menjadi keputusan dan ketentuan Allah. Terkadang, hawa nafsu menginginkan sesuatu sesuai dengan prediksi terbaik menurut kita, bukan menurut Allah.

Belajar dari banyak hal. Saya menyadari bahwa terkadang antara logika, keinginan dan ketergantungan kepada orang lain menjadi bumerang pada kehidupan kita. Semakin kita tidak "yakin" kepada Allah, semakin kita terperosok dalam ketergantungan yang semu.

Allah...perubahan hati adalah sebuah kepastian dalam kehidupan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu untuk kita. Yang bisa dilakukan adalah, memaksa diri kita untuk tetap menjadi "baik", sesulit apapun, sepahit apapun, sesakit apapun yang menimpa diri kita. Perjuangan kita sampai menuju kematian. Maka setelah itu, akan hilang semua 'rasa'.


22 Maret 2012

13 Tahun di Sini

Seperti baru kemarin rasanya.
Terduduk di masjid DT yang sudah di renovasi ke sekian kalinya. Mengalami bangunan kayu, bangunan semi minimalis, dan sekarang masjid yang minimalis lagi ^_^

Dulu, ada sudut-sudut masjid yang jadi saksi saya sedih, saya gembira bahkan saya tertidur di tempat yang sama. 

Terharu.
Terluka. Betapa saya kerap menjadikan masjid hanya sebagai pelampiasan rasa saja. Memaknainya sebagai tempat yang menenangkan. Tapi disana pula emosi tersedot sedemikian rupa, hingga tumpah..hingga berlinang.

13 tahun di Daarut Tauhiid. Kilasan peristiwa seolah nyata di pelupuk mata saya. Datang di usia 18 tahun. Episode demi episode perjalanan setengah usia saya terbentuk disini. Teman datang dan pergi. Pekerjaan berganti-ganti. Percepatan perubahan bangunan fisik, juga sekian kebijakan lembaga dan pesantren.

Ritme santri yang harus dijalani. Tahun dulu, dan tahun sekarang. Berbeda. Berubah. 

Satu hal yang seharusnya menjadi pertanyaan saya setiap hari adalah : apakah keyakinan kita kepada Allah makin meningkat atau justru tak berubah atau justru menurun dari usia 18 tahun saya dulu.

Saya sedih. Amat sedih. 
Juga menyadari, Allah menitipkan setengah usia saya di DT adalah untuk menyiapkan saya di tahun-tahun ketika usia bertambah nanti. Dengan ujian, dengan kesenangan, dengan masalah, dengan perubahan, dengan keyakinan, dengan keilmuan, dengan peristiwa, dengan teman, dengan pesantren, dengan dakwah, dengan apapun kelak saya di kemudian hari (jika tak disini lagi).

-Maka nikmat mana lagi yang akan di dustakan?-

15 Maret 2012

30 menit

Dijadwalkan 09.30...
Eh, belum siap.
Jadi deh jam 10.00 karena partner private belum siap ^_^

Well..sebuah pelajaran lagi. 30 menit memang begitu berharga. Beda setengah jam bikin kita mundurin agenda yang lain. Perencanaan sudah jauh-jauh hari...sudah di koordinasikan berhari-hari lalu. Saat pelaksanaan ada misscom di lapangan...biasa bukan?

Nah, yang pasti lemah adalah di kontrol. Itu soal kerjaan, soal yang duniawi tapi tetap hati berpengaruh. Inginnya mah kesel..hiks. Da udah di agendakan 9.30 jadi bisa lolos jadual yang lainnya. Apa daya karena 30 menit ini, mundur jadual yang lainnya.

Tapi sodara, kesel juga tetep we ngajar jam 10.00 pagi...ah...ternyata takdir Allah harus begini di pagi ini ya..
Mari atuh berusaha tetap ikhlas, hehe..amiin.

Kekeuh

Bahasa sunda itu teh. Kekeuh artina bersikukuh. Teguh pendirian. Tak tergoyahkan. Tegar bagai karang (aih).

Kekeuh bisa jadi sebuah sifat kebaikan pun berlaku untuk keburukan. Seperti memegang sebuah prinsip. Pendirian kita tentang satu hal serta pemahaman kita akan satu hal akan semakin kuat jika memang kita yakin kebenarannya. Bersikukuh dalam kebenaran dan kebaikan itu harus. Beradu otot dan urat dalam keburukan ini yang jadi masalah.

Saya bertemu dengan seorang teman yang 'ga ma tau'..."saya sudah lakukan pekerjaan ini, dan menurut saya sudah benar. Kalau ada salah berarti orang lain salah membaca laporan yang saya buat." Nah lho..bingung.

Si sayah ini kadang lemah kalau sudah dikoreksi orang. Bawaannya pengen "nyerang" dan bertahan. Haha. Kayak dalam perang aja. Padahal apa yang disampaikan oleh orang lain tuh tidak semua buruk. Hanya sifat counter dan membela diri mendominasi. Pada dasarnya kita (saya sih sigana mah, hehe) memang tidak mau disalahkan, inginnya di dukung dan di benarkan terus.

Padahal kita teh makhluk yang bisa salah, bisa benar. Mungkin banyak salahnya dibanding benarnya. 
Ah, lagi-lagi harus introspeksi.

(kejadian nyata pemirsa saat di koreksi..hehe)

 

18 November 2011

provokator

Ini dia orang yang paling dihindari...provokator. Dalam konteks yang negatif memang perlu dan amat sangat dihindari jenis orang yang melabeli dirinya sebagai provokator.
Duh, padahal saya teh orang jenis ini juga yeuh, kumaha atuh ya? Hehe...

Sengaja saya melabeli diri dengan "provokator", tak lain dan tak bukan karena faktor lingkungan kerja yang mendukung juga untuk 'mikir kritis' dan 'bersuara kritis'. Landasan terbesarna adalah karena terlalu banyak harapan yang dibangun, dan kenyataan belum terealisasi, bisa juga karena perbedaan sudut pandang akan sesuatu, sehingga jika ada sesuatu hal yang menurut kita :
" Ga banget deh!", 
"Wah padahal bisa dicari solusi lain."
"Kok mikirna gitu ya, kenapa ga gini aja."

Nah, saya juga bingung..apa beda berfikir kritis, provokator, dan sotoy alias sok tahu ^_^
Hm..hmm..let see! 

Itu teh saya banget...beneran..saya suka berfikir kritis..jadi provokator dan asli sok tahu ( haha). 
Kritis karena para pimpinan saya dulu di beberapa tempat kerja mendidik untuk  mampu mikir, untuk baca, untuk peka dengan sekitar, untuk ngeh dengan kondisi. Kita dibebaskan untuk bicara dan bertindak asal bertanggungjawab. Lahirlah the new me..gw yang tukang kritik..(lho, apa bedanya dengan kritis ya..nya eta we lah...hehe).

Saya suka jadi provokator..soalna kalo dibilang motivator, da tidak merasa ( hahay). Maksudnya, kalau ada teman yang butuh advice/saran, atau cuma curhat, atau sharing apa saja..bagian saya adalah ngomporin..biar dia berfikir out of mind nya..biar dia mikir the other side nya, biar dia punya second opinion nya. 
Contoh ya : ada teman yang ngeluh aja banyak kerjaan...(saha nya), gw sih cuma bilang,"Target aja lu mau berapa lama kerja, setiap kerjaan yang dikasih kerjakan maksimal, sampai lu jadi ahli..nah pas lu keluar, pan udah punya keahlian, walaupun bukan bidang kerjaan lu!" itu bentuk motivasi atau apa saya juga belum ngerti banget. Pokonya, saya mendorong dia untuk manfaatin capenya dia buat jadi professional..

Sok tahu! Iya, kadang ( atau sering yak?), saya suka begitu. Belum selesai orang ngomong, langsung ditanggepin, nyambung emang. Tapi bikin bete tuh..dan akibatnya saya jadi bikin ga enak orang ( hiks ). Tapi da di fikir-fikir, obrolan saya emang bener, saran juga tepat. Nah, sok tau bukan ya? ( mau ngeles.com ah, haha).

3 hal itu bikin hidup saya lebih berwarna...tapi juga kadang bikin menderita. Secara orang lain bete juga di provokatori, atau mual dengan sifat kritis saya atau malah eneg dengan sok tahunya saya.
Saya mah berharap 3 hal itu teh jadi positif saja. Kritis yang berilmu+bertanggungjawab ( bukan omdo sj). Provokator ke arah perubahan lebih baik (amiin), dan sok tahu karena punya dasar/dalil/landasan jelas, bukan asbun..

That's the new me for this decade ^_^