11 November 2011
Sang Penari
Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah buku tebal yang saya baca lama sekali.
Cerita tentang Srintil, seorang anak yang kemudian menjadi seorang penari ronggeng. Suka duka, perjalanan hidup Srintil mengguggah, menarik.
Sayang kalau nonton film ini (di mainkan oleh Prisia-artis FTV- dan Oka Antara)..tapi belum baca bukuna...At least, kita nanti tahu bagus novel atau film. Walau tentu saja, keduanya bisa beda sudut pandang.
Tak mudah mengadaptasi novel bagus menjadi film bagus, atawa sebaliknya. Well setidaknya, kita punya dua persepsi. Membaca bukunya dengan cerdas, dan menonton filmna dengan cerdas juga.
Premier hari ini di bioskop. Tapi belum ada niat pengen nonton euy...ntar aja kali ya..nunggu dvd nya..hehe
11.11.11
3 sahabatku menikah hari ini :
1. Barakallah untuk Shobirin dan calon istrinya (huhu, meni ga di kasih tau siapa namanya ih..). Akad dan walimah di Rembang..(really sorry i can meet you there in your special day brother...wish u happy).
2. Happy Wedding juga buat Tantri dan calon suami. Menikah hari ini di Masjid Daarut Tauhiid DT jam 1 siang..Barakallah.
3. Selamat menikah buat Nurwati (lama tak ketemu, kabar terbaru justru pernikahan ini)...setelah sekian lama muslimah cantik ini akhirnya menemukan sang belahan jiwa. Menikah juga di daerah Jawa. Afwan tak bisa hadir.
Btw, kenapa angka ini jadi angka pamungkas untuk menikah ya. ..uhmm, well..ya..angka bagus sih kalo buat dikenang. triple eleven right?!? Tapi bukankah setiap angka 0-9 juga amat bagus. Heu.
Temanku yang lain malah bikin status : 11.11.11...ada yang sibuk menikah, ada yang sibuk melahirkan, ada yang sibuk untuk kematiankah?
Ah, kan hanya angka...terpenting adalah moment dan peristiwa nya...siapa tahu di hari ini pun ada yang bersedih..yang terluka..yang diacuhkan...yang terpinggirkan..yang kelaparan..yang terhimpit kesusahan...yang menderita...yang bisa apa saja...
-renungan saja-
Bayangan Entah : Cerpen
Aku sedang membaca buku. Mereka sibuk diskusi. Seru sekali.
Tiba-tiba.
“Pinjem netbook ya?”
Aku mengangguk.
“Passwordnya apa?”
Ga ngeh.
“Eh, udah kebuka da.”
Nutup buku. Menoleh pada mereka. 3 orang laki-laki yang merubung pada satu netbook.
Siapa yang tahu passwordnya? Batinku.
“Aku yang buka.” Suaranya.
Berkacamata. Tak terlihat atletis tapi sehat. Tidak tahu siapa dia.
Bagaimana mungkin bisa dibuka. Hanya aku yang tahu log in nya menggunakan apa. Dan aku tidak kenal laki-laki itu.
Tak peduli. Aku teruskan membaca. Biarlah. Siapapun dia. Terserah.
Jam 21.00 WIB
“Makan yuk!” Ajaknya. Pada siapa?
“Aku tau tempat makan yang enak di sekitar sini.” Tatapannya menyihirku.
Yeah. Aku lapar. Tak ada salahnya kan. Ku ikuti kakinya melangkah. Menyetop angkot. Naik dan duduk bersebelahan.
Dia siapa. Temanku kah?
Makan seperti biasa. Tak ada percakapan. Setelah selesai, kembali naik angkot. Ke tempat semula.
Masih tak tahu siapa dia. Kami hanya diam sepanjang perjalanan di malam dingin itu.
Dalam entah, hangat rasanya mulai bermain di antara kami. Tanpa komunikasi. Hanya saling memandang. Dan semuanya seolah mencair.
Perjalanan terasa lama.
Aku tak tahu dengan hatiku, ada apa. Hatinya? Entahlah. Tak bisa menduga.
Di tempat semula. Tidak ada saling melempar senyum. Kami berpisah begitu saja.
Esoknya.
Kami bertemu.
Dia siapa?
Mengapa wajahnya hadir di mimpiku tadi malam. Dan rasa hangat itu masih terasa hingga kini. Di segenap aliran darahku.
Pagi ini melihatnya menggendong seorang bocah kecil yang lucu dan menggemaskan. Bayi siapa?
Kita terikat bukan? Oleh sesuatu yang bernama entah itu. Kamu melihatku dengan mata kejora. Aku menatapmu dengan tanya.
Hatiku hangat kembali.
Aku kenapa.
“Lu ngapain bengong disitu, sini si Ade gw yang pegang aja. Bukannya lu mau presentasi.” Temannya tiba-tiba memutus tatapan kejora itu.
Aku diam.
“Titip ya!” katanya pada temannya itu. Si bayi tersenyum, lekat di gendongan temannya.
Dia pergi. Begitu saja.
“Nah, ini lagi yang bengong. Ngapain lu? Bukannya mau ikut seminar. Ntar telat, rugi banget. Dia bagus banget kalau presentasi, dan semua bahan disiapkan oleh istrinya.” Promosinya tentang lelaki itu.
Kehangatan itu mulai menguap sedikit demi sedikit setelah jeda panjang kalimat terakhir yang diucapkannya..dan seiring langkah kaki memasuki ruang seminar.
Aku tahu. Hangat itu cinta. Aku tahu cinta itu nyeri. Aku tahu nyeri itu menghujam sampai ke jiwa.
Yang aku tak tahu, siapa lelaki beristri itu.
10 November 2011
5 cm
Ini judul buku. Entah kenapa penulisnya yakin betul menggabungkan angka dan centimeter bisa membuat si buku laku keras. Plus daya dukung cover warna hitam. Jadi saja saya tertarik membeli. Sudah lama sekali. Dan ternyata itu buku baru dikembalikan oleh sahabat saya kemaren. Padahal udah lupa buku 5 cm itu punya saya..hehe!
Antara Arial, Zafran, Genta, Ian, Riani (cewek satu-satunya). Mereka berbagi obrolan tidak penting, berbagi sifat dan karakter yang beda satu sama lain. Zafran yang punya dunia sendiri, Genta dan Riani yang cerdas, si segala tahu. Ian yang hobi nonton bokep, serta Arial yang macho abis...ke lima orang ini diramu sedemikian rupa ceritanya olah Dhoni, sang pembuat skenario.
Mau dibawa kemana ituh cerita teh?
Entahlah. Semenjak saya beli buku, saya langsung baca. Dan langsung diedarkan alias dipinjemkan ke sahabat-sahabat saya. Ketika bertemu lagi, saya ingin membaca kembali dan menemukan..ada apa sih ini buku ^_^
Resensi besarnya : 5 cm berbicara tentang persahabatan, cinta, gaya hidup, pilihan-pilihan, kebiasaan, hiruk pikuk cita-cita dan keinginan. Rame lah..baca we ya...hehehe...
-ps. sebisa mungkin saya ingin blog ini juga memuat resensi buku-buku yang saya punya, walaupun jumlah na lebih dari 1500 buah..ah sedikit-sedikit saja...mudah-mudahan manfaat--amiin..
Depresi
8 tahun. Saya lagi seneng-senengnya maen sama gank SD. Godain siswa/i SMP yang lewat gerbang...gaya ciluk ba gitu deh! Manggil trus sembunyi, ketawa-ketawa liat mereka pada bingung nyari siapa yang manggil.
9 tahun. Gank saya tambah banyak. Bergerilya ke pasar, ke tempat maen, kerja kelompok, ke sawah, maen masak-masakan di rumah temen.
Wah, masa SD saya keren lah. Jadi ketua gank yang berjumlah 6 orang ( ada si kembar Yopa Yopi, dimanakah kalian), ada Dewi Cibogo sobat saya, ada Nani sang pemalu, ada Eva yang cantik, ada Ikhlas - nama orang lho)...dan ada yang lainnya.
Waktu dihabiskan dengan bermain, bermain, bermain...asyiknya...la..la..la...hore!
Dia. 9 tahun. Depresi. Bolak balik rumah sakit. Minum obat penenang. Minum obat halusinasi. Dialog dengan psikiater.
Dia. Yang masih sangat muda. Melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 3 kali. 2 dengan memotong tangan, 1 dengan menggantung diri di kamar. Ketiganya gagal. Tak berhasil.
Dia. kutemui dengan segenap luka emosi. dengan sekian masalah hidup. Di usia 13 tahun.
Dia. penuh talenta. punya kabisa. punya masa depan yang panjang sekali.
Saya 33 tahun. Dia 13 tahun. Beda 20 tahun..sungguh perjalanan hidup yang lama sekali bukan?
Kami di pertemukan, begitu saja..indah sekali.
Dan dia masih disana. Berusaha bangkit menjadi SOMEONE, bukan lagi NO ONE.
Life must go on honey, i know u can through this, i know u can release your pain, you can be what you are, you is you. No matter what, u will find a beautiful life somehow.. lots of friends arround you...a family too...and the most important is Allah will always guide you.
Love u sista ^_^
Aku ingin menangis (sungguh)
Detik ini. Aku ingin menangis.
Sungguh!
Tak tertahankan haru ini.
Sesak, karena harus kutahan agar airmata tidak meluncur..
(ini tempat umum sodara...masih harus jaim, ah)
Teteh...sungguh betapa luas nama ke-ikhlasan- itu di hati teteh..
padahal saya teh santri yang selalu merepotkan...bikin masalah wae dan sudah lama tak khidmat. Namun, sungguh....mengenal DT adalah mengenal Teteh. 5 tahun bersama teteh, saya banyak belajar menjadi seorang muslimah yang qonaah, yang lembut, yang tiada tuntutan duniawi, yang sabar dan yang menerima (walau tak sepenuhnya saya bisa, hiks)
Hari ini. Sms itu. Dari teteh...mengikhlaskan setiap janji yang harus saya tepati ( sudah sejak lama sekali)...Teteh membebaskan semuanya...ridha dengan setengah janji yang saya penuhi..
Duh, betapa saya malu sekali Teh. Tidak ada niat saya untuk menunda setiap janji.
Maafkan...
Terimakasih...
Subhanallah!
Teh Ninih...saya mencintaimu karena Allah...semoga Allah pun mencintai Teteh...selalu..selamanya..
Langganan:
Postingan (Atom)







