9 Oktober 2012

Lalu Apa

Ini wajahku.
Yang tertawa palsu.

Dan itu hatiku.
Yang asli yang hanya terlihat olehmu.

Ini senyumku.
Yang entah simetris atau tidak.

Dan itu (masih) hatiku.
Yang bahkan aku bingung seperti apa warnanya.

Ini kepalaku
Yang berisi kekelaman.

Dan itu (juga) masih hatiku.
Yang rapuh dan siap hancur dalam sekejap

(Wow, sebuah catatan kemeranaan)

Para Inisialers

Inisial S ini...begitulah.
Inisial M ini..begitulah.
Inisial K ini ..begitulah.
Inisial J ini..begitulah.
Inisial N ini... begitulah
Inisial A ini..begitulah
Inisial C ini..begitulah

Coba saja tebak ada huruf apa di belakangnya.
U never know.
Coz only me who know.

Jadi tak boleh protes.
Jadi tak boleh bertanya.
Jadi tak boleh menuduh.
Jadi tak boleh menduga

Sekedar menuliskan inisial-inisial saja.
Daripada jadi borok dalam kepala
Dan bingung mau dimuntahkan kepada siapa.

Jika kau kuberitahu kan huruf dibelakangnya
Mungkin tak berarti apa-apa.
Karena memang hanya untuk artiku semata.

Bahkan jika kau memaksa untuk tahu.
Percayalah..sungguh menjijikan...
Dan kau tak akan suka itu

(catatan sore hari ini-menunggu)

Tergantung

Bertahun menggantungkan diri kepada orang lain. Masalah, peristiwa, dan setiap apa yang dilakukan sepenuhnya menurut orang lain. Puluhan tahun hidup begitu.

Lalu ada judul : Diambil. Kehilangan. Dilepaskan.
Yang bukan milik kita, diambil kembali oleh pemiliknya yang berhak.

Tersungkur. Limbung. Depresi. Kehilangan arah. Berhari. Berbulan. 

Efek ketergantungan yang luar biasa. Kemandirian individu hilang, kesedihan yang berkepanjangan. Gamang menjalani kehidupan ke depan. Ga ngerti mau ngapain lagi. Menjalani setiap hari dengan kebingungan.

Sunnatullah kematian begitulah. Melepaskan setiap kita dari ketergantungan kepada seseorang. Kepada makhluk.

Pun, jangan2 kita sekarang masih tergantung pada makhluk yg masih hidup.
Bergantung rasa, bergantung tanggungjawab, bergantung harapan, bergantung keinginan bersama.
Sehingga kemudian kita tak pernah mengenal kepada siapa sejatinya kita harus bergantung.

Mujahadahnya hanya satu : lepaskan!

Seri Parenting Rava : Ibu Sedih

Jika sedih itu tak tertahankan. Kau tak punya waktu untuk menahan setiap butiran airmatanya.

"Ibu kenapa? Kok menangis. Ibu sedih?"
Rava bertanya. Dan itu membuat air itu mengalir sungguh sangat deras.

Nak, hatimu lembut. Allah yang melembutkan.
Nak, hatimu peka. Allah yang membuat begitu.

Tak ingin airmata ini keluar di hadapanmu.
Tak ingin kau melihat ibumu menangis.

Hanya tak tertahankan saja. 
Maafkan ibu ya Nak.

Mencintaimu adalah kesedihan yang lain.
Selamanya cinta ini buat Rava.

(Bu, tahanlah setiap sedih..biar Rava hanya melihat tawa di wajahmu saja)

Perempuan Yg Memilih

Ini soal kita. Soal perempuan. Soal apa yang difikirkan, dirasakan, di pilih dan di putuskan.
Bertemu dengannya. 4 tahun berhubungan dengan seorang lelaki 3 anak beristri 1. Kenyamanan, perhatian, rasa diakui, di jadikan tempat curhat...lepas, nyambung lagi, lepas lagi, disambung lagi..begitu terus selama ratusan hari.

Ah, inginmu apakah?
Dan ketika galau, tidak tenang, resah, gelisah itu menghampirimu. Kau terluka amat dalam. Kau tak bisa lepas, tapi tak mau menerima resiko lain.

Perempuan.
Hatimu kau titipkan pada siapa.
Ketergantunganmu kau titipkan pada siapa.
Hidupmu kau titipkan pada siapa.

Ingin menyelami, tapi betapa sulit pilihanmu itu.
Dan hanya diri dan hatimu yang bisa memilih. 
Bukan aku.
Bukan dia.
Bukan.

5 Oktober 2012

Seri Parenting Rava : Pijat Istimewa

Senangnya setiap sore.
Senangnya setiap pulang dari kantor.
Senangnya disambut jagoan cilik nan ganteng.
Senangnya menerima pijit gratis dari Rava.

Dengan tenaga seadanya.
Dengan kekuatan semampunya.
Dengan waktu yg singkat sekali.

"Bu, sini aku pijit ya..."

Nikmat mana lagi yang di dustakan

Allah lah yg memberikan kemampuan "insting" pada anak untuk menyenangkan hati orangtuanya ^_^

Makasih sayang..makasih Rava...love u so much !

Love Ur Self

T'Betty semangat sekali menyampaikan..hai para muslimah..sayangi dirimu, tak apa di cap egois dan super narsis..hehe.

Kajian kebersamaan akhwat DT yg seperti biasa di jumat pagi ini menyenangkan..karena bisa bernarsis ria, walau tanpa foto-foto, hehe.

Caranya gimana "cinta pada diri sendiri" :
1. Perhatikan kebutuhan fisik (sudah ke salon belum, haha)...jaga makan dari yg halal dan baik, asupan air yg cukup, istirahat cukup, olahraga, liburan, menghadiahi diri sendiri.

2. Perhatikan kebutuhan batin --> jangan gampang galau dan stress, ibadah di kuatkan dan istiqomah, hindari penyakit hati yg banyak ituh (iri, dengki, sombong, suudzon, dll)...


Semua ilmu berkah pasti bisa dijalani, di aplikasikan..ayo ah..muslimah...lindungi diri kita dengan cara menyayangi, menerima diri apa adanya...terus bersabar dan berjuang hingga maut menjelang...^_^