15 September 2012

Oh Woman..Oh Man...

Sesore itu. Di 60 menit menjelang pulang. Dua perempuan berbagi cerita.

Cantik. 26 tahun. 1 Putra. Pendidikan cukup. Pengalaman menikah 2 kali.

"Ya, begitulah teh. Kondisinya sekarang seperti ini." Memulai (lagi) dengan judul -masalah-.

Tak apa.

Itu guna hati, fikiran, dan kehidupan. Untuk mempelajari sesuatu dan menggali hikmah.

Ah, tak semua orang memahami seluk beluk pernikahan. Ikatan yang mengguncang Ars-nya Allah.

Yang membuat malaikat menyerukan doa dan keberkahan langit.

Lelaki. Perempuan. Kita. Kamu dan saya. Tak cukup memahami makna nya. Tak jua mengerti kedalaman keberkahannya.

Masih banyak harus belajar.

Yang terdekat adalah menelusuri diri. Mengorek setiap kelemahan, kekurangan, kesalahan, dosa dan maksiat diri. 
Menyalahkan orang lain menambah beban, lelah, dan kegelisahan. Sama sekali tak mengundang ketenangan.

Hanya ingin Allah menerima setiap penyesalan atas dosa-dosa kita.
Hanya ingin Allah berkenan membuka pintu pertolongan atas setiap khilaf kita.
Hanya ingin Allah memberikan kekuatan, kesabaran, dan kemampuan menjalani setiap takdir.

-Teh, dirimu kuat sesungguhnya...InsyaAllah!-


14 September 2012

Bicara Cinta (Kembali)

Pagi ini terwarnai dengan "keresahan" lagi.
Ujung-ujungnya, kening berkerut, menganalisa sesuatu, mempertimbangkan sesuatu, memikirkan sesuatu, berhitung dengan berbagai kemungkinan lagi.

Bukan salah siapapun jika kita jatuh cinta. Da itu mah memang fitrahnya setiap insan. Bahkan ketika kita kehilangan cinta pun, bukan salah siapa-siapa.

Orang bilang cinta hakiki itu cuma satu..kepada Allah.
Keluarga, pasangan, anak-anak, sahabat, teman, dan yang lain-lainnya menjadi urutan berikutnya setelah Allah dan Rasul-Nya.

Sebagai manusia biasa...dan sebagai perempuan, efek cinta ini menjadi sebuah "kalimat sakti" yang ada di kehidupan kita. Butuh cinta, butuh kasih sayang, butuh diperhatikan, butuh dihargai, butuh dimengerti dan dipahami, butuh berbagi.

Maka ketika itu tidak ada lagi, definisi cinta-mencintai-dicintai menjadi kabur. Menjadi sebuah "niscaya".

Yang pasti. Cinta punya waktu, kondisi dan orang yang tepat. Pilihannya cuma satu..bertaruh di 3 hal itu...
Bisakah setiap cinta kita benar-benar menuju cinta yang hakiki..yang sejati..kepada Dia sang Pecinta.

Allohu'alam bisshowab

-episode mujahadah mencintai Khalik dibanding makhluk-

Hidup Jujur

Siapa yang tak ingin hidup dalam kejujuran. Bukan kepalsuan. Bahagia dengan jujur, sedih dengan jujur. Tak ada orang yang ingin menipu dirinya sendiri. Hidup palsu.

Saya menghormati orang-orang yang memiliki prinsip hidup harus jujur. Tanpa kepalsuan.
Saya juga menghormati orang-orang yang punya prinsip. Tak apa hidup palsu asal semua mendapat manfaat.

Karena letaknya bukan di kejujuran dan kepalsuan itu sendiri.
Letaknya ada pada jujur kepada siapa? palsu kepada siapa?
Toh yang Maha Mengetahui sangat paham seluk beluk niat dan hati kita.

Jujur kalau menyakiti banyak orang, bisakah itu maslahat?
Palsu kalau menyakiti banyak orang, bisakah itu maslahat?
Jujur kalau bisa maslahat, baikah?
Palsu kalau bisa maslahat, baikah?

Mungkin cuma diri kita yang bisa menjawab.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang tidak menyakiti sesamanya?

-saya masih banyak belajar..memohon ampun ya Allah, jika hidup ini masih penuh dengan kepalsuan-

13 September 2012

Seri Parenting Rava : Pengertian

"Mau ikut ibu aja....huhuhuhu!" pagi itu Rava menangis. Setelah 7 hari ditinggal kerja ayah ibunya dan seharian bermain-main di rumah. Pecah juga di hari itu. 

Turun dari motor. Memeluk tubuhnya. Mengajaknya ngobrol. Dan memberikan dialog singkat ini.

"Rava boleh ikut ibu dan ayah kerja, tapi tidak hari ini. Gimana?" Whaduh..sedihnya.
"Di rumah nenek Rava bisa bermain dengan Ebet, dengan nenek, menonton film kesukaan Rava dan bobo siang. Gimana?" huhuhu...dia masih menangis.

Jurus lain...,"Sini ibu buang dulu nangisnya ya..!" kuambil airmatanya..kubuang ke arah pintu.
Dia mulai mereda. Tersedu. Dan tetap tak menarik tubuhnya. Tetap pengen ikut.

Jeda sejenak. 

Setelah dipastikan dia reda tuntas tangisnya. Pelan dipeluk...di ungkapkan rasa kasih sayang. 

Phiuh...episode pagi!

Quote :
Yang dibutuhkan anak saat menangis memang hanya pelukan, usapan, dan pengertian terhadapnya. 
Marah???hohoho...
Ancaman???wah...ga bisa berlaku

12 September 2012

Seri Parenting Rava : Mubazir

"Bu...kalau susu Rava ga habis nanti jadi temen setan ya?"

Si ibu yang sibuk setrika tertegun. Ini anak umur mau 4 tahun pertanyaannya itu lho ^_^

Ini kesempatan (otak berputar cari jawaban...)

"Ya nak, karena kalau tidak habis artinya "mubazir" - pasti dia ga ngerti tuh arti mubazir, hee- nah, kalau mubazir itu perbuatan setan. Jadi deh Rava temennya setan." Semoga di pahami.

"Rava ga mau ah jadi temen setan." Hoho..he understand. Alhamdulillah

Quote:
Tidak mudah menanamkan keyakinan dan pengertian pada anak atas setiap hal yang dilakukannya, apalagi jika itu dikaitkan dengan pemahaman dalam agama. Mendidik anak sedari kecil terhadap hal-hal yang sesuai dengan syariat. Perlu berulang kali. Tak bosan. Dan ilmu orangtua harus seluas lautan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan buah hati.

-Yuk, belajar lagi!

11 September 2012

Can't Trust Anyone

Nah! Dialog menjelang siang bersama Ustadzah ini menarik.

"Kita harus percaya 100%!"

"Uhm, menurutku ga harus kalau itu kepercayaan yang diberikan kepada sesama manusia. Pengalaman membuktikan. U can't trus anyone...somehow..even your best friend or someone who close to you.."

Oh gitu ya!

Kadang untuk memercayai seseorang harus kalau itu sesuatu yang bersifat umum dan bukan privacy. Tapi kalau udah urusan curhat pribadi yang sifatnya very confidential..watchout..be carefull. Tak semua orang bisa jaga amanah, tak semua orang bisa menutupi cerita dengan kebaikan, tak semua orang bisa menjaga kisah kita.

Ada baiknya memang memilih orang..itu pun jangan sampai 100% semuanya kita ceritakan.

Ah, lebih baik cerita saja sama Allah...dijamin kerahasiaan terjaga. 

10 September 2012

Ber-Fokus

Mau tau aja!
Seneng liat perbuatan orang lain dan selalu ingin comment, penting atau ga penting.
Saatnya berlatih untuk tidak mau tau selalu urusan orang lain. Jika punya yakin bahwa apapun yang dilakukan orang, yang baik, yang buruk, yang belum baik dan yang belum buruk...setiapnya ada pengawasan, ada yang mencatat, ada yang melihat...cukup dengan yakin saja. 

Peluang kotor hatinya itu lho yang bikin cuapek luar biasa.
Liat orang berbuat baik..timbul dengki..iri...dan sejenisnya...susah untuk punya perasaan flat (ato cuma sayah sajah..hiks..)

Liat orang berbuat belum baik...mulut dan fikiran udah gatel pengen comment (sok merasa diri lebih baik tea..huhuhu)

Maka...jika melihat apapun dengan iman. Tak akan kotor hati..minimal rada mengurangi dosa.

Maka..jika melihat apapun dengan iman. Sekuat tenaga kita menjaga ini lidah dan fikiran dan hal-hal yang merusak hati. (susah banget..huhuhu)

Maka..jika melihat apapun dengan iman. Setidaknya peluang kita untuk jadi lebih baik terbuka lebar...amiin, semoga.

Maka..jika melihat apapun dengan iman. Kita akan FOKUS pada diri sendiri. Jangan2 kita tak lebih baik dari yg dikomentari.

Fokus..fokus..!