31 Oktober 2012

Terpuruk

Waduh, saya lagi galau..segalau-galaunya...ini mah episode keterpurukan teh...(cerita seorang teman siang ini).

A : Normal bu, setiap orang merasakan hal yang sama kok. Kadang iman naik, kadang iman turun (huhu, so wise..)

B : Iya Ka, asal jangan sampai putus asa aja kalau lagi terpuruk (ehem)

C : Saya juga sering mengalami gitu mah...naik na emang susah pisan (pengalaman seorang mualaf)

Well, siang ini selain ditemani Brussel Steak dan Grilled Chicken..juga bergelas Lemon Ice Tea...diskusi soal keterpurukan dalam ibadah dan turunnya semangat iman menjadi tambahan menu (yg berat tentu saja).

Setiap orang mengalami kenikmatan dalam beribadah, dan ini adalah anugerah terbesar yang harus disyukuri. Setiap orang juga mengalami turunnya kenikmatan dalam beribadah dan kedekatan dengan Allah. Ini yang kemudian menjadi "masalah" kita.

Solusi lain : cari teman yg baik, cari lingkungan kondusif, cari cara utk bisa bangkit, jangan memaksa diri, nikmati proses "merangkak" menuju Allah kembali, evaluasi dosa/salah/maksiat diri. Bersemangat untuk terus khusnudzan.

Ah...kita manusia memang tak lepas dari naik turun rasa iman ini.

Ya Allah..semoga hidayah ini tetap diberikan walau dalam keterpurukan yang s

30 Oktober 2012

Just a ...

Just a little mistake.

Tapi tetep efek dari sebuah kesalahan bisa kemana-mana.
Terasa sekali ketika kita merasa "benar" berbuat sesuatu. Di tempat kerja misalnya. Yakin banget kalau laporan udah di bikin, eh taunya masih belum di serahkan ke bos. Nah...sok yakin ini lah yg bikin runyam.

Pede aja lagi. Padahal belum tuntas.
Susah memang kalau berbuat salah, kemudian tetep merasa pede dan tak peduli orang ngomong apa.

Malu mungkin iya. Tapi orang jadi males berkomunikasi lagi jika ada hal-hal yang pengen di kompromikan.

Nah, ber efek kan.

So, ayo ah belajar untuk bikin salah yang kecil, tapi ngaku dan memperbaikinya.

Sebelum kita melakukan kesalahan besar, atau terbesar dan efek jera yang ditimbulkannya dalam hidup kita terbawa sampai kita mati nanti.Naudzubillah.

Seri Parenting Rava : Alphabet

Ayo...kita susun uang-uang koin ini menjadi sebuah bentuk!

Disela tayangan televisi, kebersamaan dan penat ^_^

Ini huruf apa bu? tanya Rava.
Ini A...dari Ayah, Aku, Adik...

Rava menirukan menyusun dan mengeja.

Lihat bu, Rava bikin huruf S! Serunya senang.
Hohoho...padahal susunan koin menyerupai huruf W...jauh sekali.
Oh iya, bagus ya Nak. S dari Senang, Sayang...tetep di apresiasi.

Itulah bagian dari sebuah pendidikan.
Learning must fun.
Ga asyik kalau belajar cuma monoton doang. Otak ga tersambung.

Next. Kita lihat perkembangan yang lain dari Rava.

25 Oktober 2012

Menulis Sampai Gila

Nah. Ini sih sengaja bikin suasana kantor dan kerjaan rada cenghar...atuh da..asa lemes hari kamis ini teh. Makan udah, ngobrol udah, cek fb udah, kerjaan ada beberapa yg belum kelar...tetep aja asa ga semangat.

"Teh, kalau lagi cape fikiran, bisa nulis ga?" seorang akhwat yg belum menikah (dan kelihatannya sedang semangat belajar) bertanya.

"Wah, pasti atuh. Justru karena kita cape, segala hal dimuntahkan lewat menulis." Hohoho..sok keren pan jawabannya.

Tapi nyatanya demikian. Tipe kayak sayah mah, kudu we nulis teh. Mau di blog, mau di hp, mau di bb, mau dimana aja...yg penting nu di otak keluar semua. Plong lumayan hati juga juga. Dan setidaknya saya tidak merugikan orang lain dengan curhat teu puguh atau bete yg geje.

Begitu kan!

Saat yg sama, ada status temen di FB (menulis adalah bentuk ekpresi kegilaan yg baru...)

Pas!

24 Oktober 2012

Proyek Bu!

Waduh, pagi-pagi sudah diserang diskusi soal "proyek" sama Ayah.
Huhuhu..spechless!

Tau sih ada kepengen menulis. Tau sih ada peluang bikin buku. Tau sih jangan menyerah dengan kendala yang ada. Tau sih ada sarana dan komunitasnya.

Tapi..
Nah, itu dia..tapi lagi..tapi lagi..

Otaknya belum mudeng dengan proyek.
Otaknya belum connect dengan semangat menulis.
Otaknya belum familiar dengan kebutuhan dan keinginan.

Hehe.

Ah, ngeles we...males mah, males.

Separuh Aku

Senandung sumbang milik Rava mengusik telinga sore itu. Hehe.
Anakku ternyata cepat sekali merespon setiap kalimat iklan dan lagu. Yeah..seharian bersama kotak berwarna itu membuatnya cepat sekali belajar berkata dan mempraktekannya.

...karena separuh aku...dirimu...

Ah, romantis sekali untuk pasangan mencinta.

Separuh aku seperti bahwa kita hanya separuh, dan yang separuhnya lagi milik orang lain. Dalam persfektif saya (diluar konteks lagu). Tetap saja sejatinya kita tuh utuh, satu dan tentu tidak menjadi bagian dari "orang" lain. 

Dalam pandangan yang berbeda, tentu saja kita tetap makhluk sosial yang berinteraksi dengan orang lain. 
Aduh, kenapa jadi bingung begini menulisnya.

Baiklah, saya diserang diskusi-diskusi sambil menulis ini, jadi tidak konsen. Makanya, saya sudahi aja di sini.

Maafkan.
 

Dan terjadi lagi
kisah lama yang terulang kembali
kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani

Aku ingin kau merasa
kamu mengerti aku mengerti kamu
aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku dirimu

Ku ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu
Didekatmu saat engkau terjatuh

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi milikku
karena separuh aku dirimu
  • Dan terjadi lagi
    kisah lama yang terulang kembali
    kau terluka lagi
    Dari cinta rumit yang kau jalani

    Aku ingin kau merasa
    kamu mengerti aku mengerti kamu
    aku ingin kau sadari
    Cintamu bukanlah dia

    Dengar laraku
    Suara hati ini memanggil namamu
    Karena separuh aku dirimu

    Ku ada di sini
    Pahamilah kau tak pernah sendiri
    Karena aku selalu
    Didekatmu saat engkau terjatuh

    Dengar laraku
    Suara hati ini memanggil namamu
    Karena separuh aku
    menyentuh laramu
    Semua lukamu telah menjadi milikku
    karena separuh aku dirimu

Dan terjadi lagi
kisah lama yang terulang kembali
kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani

Aku ingin kau merasa
kamu mengerti aku mengerti kamu
aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku dirimu

Ku ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu
Didekatmu saat engkau terjatuh

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi milikku
karena separuh aku dirimu

  • Separuh Aku


    Dan terjadi lagi
    kisah lama yang terulang kembali
    kau terluka lagi
    Dari cinta rumit yang kau jalani

    Aku ingin kau merasa
    kamu mengerti aku mengerti kamu
    aku ingin kau sadari
    Cintamu bukanlah dia

    Dengar laraku
    Suara hati ini memanggil namamu
    Karena separuh aku dirimu

    Ku ada di sini
    Pahamilah kau tak pernah sendiri
    Karena aku selalu
    Didekatmu saat engkau terjatuh

    Dengar laraku
    Suara hati ini memanggil namamu
    Karena separuh aku
    menyentuh laramu
    Semua lukamu telah menjadi milikku
    karena separuh aku dirimu

Seri Parenting Rava : Jangan Kerja

"Ibu hari ini nginep ga?"
"Ya atuh Va, kan ini rumah ibu rava dan ayah...hehe"

Esoknya.
"Bu, hari ini kerja?" tanya Rava.
"Iya nak." Udah spechless deh.

"Ibu jangan kerja. Disini aja sama Rava."Sudah mulai tanda-tanda menangis di wajahnya.
Oh, sungguh pagi yang berat.
Oh, sungguh mencelos hati ini.
Oh, rasanya tak tega meninggalkannya dalam kondisi sedih.

Dipeluk. Disayang. Di bisikan kata-kata. Di tanya pengen oleh-oleh apa. Di beri pengertian arti bekerja dan kepergian kami.

Ah...tangisnya tetap meluncur.
Mulai memukul.

Dan kami tetap pergi. Sedih sekali.
Pilihan oh pilihan.

Nak...maafkan kami ya..(huhu...aku sedih)